Selasa, 25 Juni 2013

Oleh   : Shanty Sianturi
Nim    : 111201075

BAB I
PENDAHULUAN
            Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl baik liar maupun di tanam (Wirawati dkk., 2002).
            Talas tumbuh tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di daerah beriklim sedang. Pembudidayaan talas dapat dilakukan pada daerah beriklim lembab (curah hujan tinggi) dan daerah beriklim kering (curah hujan rendah), tetapi ada kecenderungan bahwa produk talas akan lebih baik pada daerah yang beriklim rendah atau iklim panas. Curah hujan optimum untuk pertumbuhan tanaman talas adalah 175 cm pertahun. Talas juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah tadah hujan dan tumbuh sangat baik pada lahan yang bercurah hujan 2000 mm/tahun atau lebih. Selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka dengan penyinaran penuh serta tanaman ini mudah tumbuh pada lingkungan dengan suhu 25-30ÂșC dan kelembaban tinggi (PROSEA, 1994).
            Tanaman talas menyukai tanah yang gembur, yang kaya akan bahan organik atau humus. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah dengan berbagai jenis tanah, misal tanah lempung yang subur berwarna coklat pada lapisan tanah yang bebas air tanah, tanah vulkanik,andosol, tanah latosol. Tanaman talas untuk mendapatkan hasil yang tinggi, harus tumbuh di tanah drainase baik dan PH 5,5–6,5. Tanah yang bergambut sangat baik untuk talas tetapi harus diberi kapur 1 ton/ha bila PH nya di bawah 5,0. Tanaman talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Apabila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman ini ialah menjelang musim hujan, sedang musim panen tergantung kepada kultivar yang di tanam. Talas dapat tumbuh pada ketinggian 0–1300 m dpl. Di Indonesia sendiri talas dapat tumbuh di daerah pantai sampai pergunungan dengan ketinggian 2000 m dpl, meskipun sangat lama dalam memanennya.
            Tanaman talas mengandung asam perusi (asam biru atau HCN). Sistim perakaran serabut, liar dan pendek. Umbi mempunyai jenis bermacam-macam. Umbi dapat mencapai 4 kg atau lebih, berbentuk selinder atau bulat, berukuran 30 cm x 15 cm, berwarna coklat. Daunnya berbentuk perisai atau hati, lembaran daunnya 20-50 cm panjangnya, dengan tangkai mencapai 1 meter panjangnya, warna pelepah bermacam-macam. Perbungaannya terdiri atas tongkol, seludang dan tangkai. Bunga jantan dan bunga betina terpisah, yang betina berada di bawah, bunga jantan di bagian atasnya, dan pada puncaknya terdapat bunga mandul. Buah bertipe buah buni. Bijinya banyak, bentuk bulat telur, panjangnya ± 2 mm.
            Tanaman talas atau yang biasa disebut juga dengan lompong dapat dijadikan untuk tanaman hias di dalam rumah kita. Akan tetapi tanaman ini juga biasa tumbuh di semak-semak, tanah kosong, ataupun tepian sungai sehingga tanaman ini terkesan sebagai sebuah tumbuhan yang tak berguna sama sekali. Namun untuk orang yang mengetahui manfaatnya, tanaman talas ini mempunyai banyak sekali kegunaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa tumbuhan ini sebagai tumbuhan yang ampuh untuk dapat mengatasi berbagai macam penyakit menahun yang banyak diderita oleh orang di sekitar kita.   
            Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, lemak dan vitamin.  Kandungan protein daun talas lebih tinggi dari umbinya. Pada talas bogor, talas semir dan talas bentul kandungan protein kasar berat kering daun adalah 4,24%-6,99% sedangkan pada umbinya sekitar 0,54%-3,55%.  Rasa gatal di mulut setelah makan talas disebabkan oleh kristal-kristal kalsium oksalat. Kalsim oksalat hanya menyebabkan gatalgatal tanpa gangguan lain. Zat tersebut dapat dikurang dengan pencucian banyak air (Sitompul dan Guritno, 1995).
BAB II
ISI
2.1 Keunggulan Tanaman Talas
            Talas merupakan tumbuhan yang 90% bagiannya dapat dimakan. Daun, tangkai daun, pelepah, umbi induk dan umbi anakan dapat dimakan. Bagian yang tidak dapat dimakan hanyalah akar-akar serabutnya. Manfaat utama umbi talas adalah sebagai bahan pangan sumber karbohidrat.  Di Kabupaten Sorong Irian Jaya talas dimakan sebagai makanan pokok. Di daerah lain talas dimakan sebagai makanan tambahan setelah diolah menjadi macam-macam masakan atau dimakan begitu saja sebagai talas rebus, talas kukus atau talas goreng. Talas juga dapat diambil tepungnya untuk dipakai sebagai pengganti tepung terigu. Tepung talas, selain dapat diolah menjadi keripik, umbi talas juga dapat diolah menjadi tepung. Tepung talas dapat digunakan sebagai bahan baku makanan ringan. Di Filipina dan Columbia talas dibuat kue-kue, sedangkan di Brazil dijadikan roti.  Umbi talas tidak dapat dikonsumi dalam keadaan mentah, karena umbi ini menghasilkan getah yang dapat mengakibatkan gatal-gatal pada mulut dan gangguan pencernaan bila dikonsumsi dalam keadaan mentah (Rosmiatin, 1995).
            Kandungan gizi yang ada di dalam tanaman talas ini adalah Thiamin, zat besi, riboflavin, fosfor, Vitamin B6 dan C, zinc, niacin, tembaga, potassium, serat, dan juga mangan. Selain itu kandungan gizi yang dapat bermanfaat bagi tubuh manusia pada umbi talas adalah Protein, Lemak, Karbohidrat, Kalsium, Phospor, Besi, Vitamin A, C, B1, dan air. Umbi talas kukus memiliki kandungan energi sebesar 120 kal, sedangkan umbi talas mentah memiliki kandungan energi sebesar 98 kal. Bagian umbi dan daun talas mengandung mineral serta vitamin, bahkan kandungan nutrisi dari daun talas sama dengan kandungan nutrisi pada sayur bayam. Namun demikian perlu diingat bahwa tumbuhan talas ini juga memiliki kandungan asam oksalat, maka dari itu ada baiknya untk menghindari mengkonsumsi umbi ini oleh mereka yang memiliki gangguan ginjal, rematoid arthritis, ataupun gout. Bila tidak, maka penyakit yang kita derita itu akan menjadi jauh lebih parah (Fatah, 1995).
            Bagian umbi dan daunnya kaya akan mineral serta vitamin. Nutrisi di dalam daun talas ini serupa dengan yang terkandung di dalam sayur bayam. Selain itu, tanaman ini juga dapat dimanfaatkan guna mengatasi bengkak yang dikarenakan oleh radang kelenjar limfa stadium awal. Tumbuhan talas ini juga dapat membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi jauh lebih nyaman. Selain itu, tumbuhan ini juga dapat meringankan diare, dan dapat dijadikan untuk obat oles guna mengobati penyakit bisul, luka bakar, dan juga luka karena gigitan serangga. Umbi talas ini juga baik untuk menyeimbangkan pH di dalam tubuh kita (Lembaga Biologi Nasional, 1977).
            Selain sebagai sumber karbohidrat pengganti beras, talas dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.  Bubur talas dapat melancarkan pencernaan sehingga dapat dikonsumsi untuk makanan bayi dengan tingkat alergi yang rendah. Bubur akar rimpang talas dipercaya sebagai obat encok, cairan akar rimpang talas dapat digunakan sebagai obat bisul. Orang yang makanan pokoknya talas seperti orang melanesia memiliki gigi yang lebih kuat dan bagus. Hal tersebut disebabkan makan talas dapat meningkatkan kebasaan yang lebih tinggi sehingga mulut tidak masam. Kemasaman yang tinggi merupakan salah satu penyebab rusaknya gigi, sedangkan kebasaan yang tinggi memperkecil kemungkinan rusaknya gigi, sehingga gigi menjadi kuat, sehat dan bagus (Rahmanto, 1994).
2.2 Jenis - Jenis Hasil Olahan Produksi Talas
            Talas berpotensi untuk diolah menjadi berbagai jenis olahan antara lain adalah berikut ini.
a. Sebagai Makanan Pokok
            Talas dibeberapa daerah Indonesia merupakan makanan pokok pengganti nasi seperti Mentawai (Propinsi Sumatera Barat), Sorong (Propinsi Irian Jaya). Selain Indonesia dibeberapa negara juga digunakan sebagai makanan pokok seperti di Melanesia, Fiji, Samoa, Hawai, Kolumbia, Brasil, Filipina. Di Hawai talas disajikan sebagai makanan pokok yang disebut poi yaitu talas yang dibuat getuk dan dicampur air dan kemudian difermentasikan sebelum dimakan sedangkan di Brasil talas dibuat jadi roti.
b. Sebagai Sayuran
            Selain itu bagian tanaman yang lain seperti daun dan batangnya juga dapat digunakan sebagai sayuran seperti buntil. Sedangkan akar rimpang maupun getah pada pelepahnya dapat juga dimanfaatkan sebagai obat tradisonal.
c. Sebagai Olahan Home Industry (Industri Rumah Tangga).
            Tanaman talas telah dikenal lama oleh masyarakat luas sebagai bahan makanan dan bahkan telah menjadi komoditas perdagangan. Di beberapa daerah seperti di Jawa Barat, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya umbi talas telah menjadi industri rumah tangga (home industry) dalam bentuk ceriping, talas goreng, talas rebus, kolak dan sebagainya sehingga memiliki nilai ekonomi yang baik dan menguntungkan bagi para petani maupun pedagang yang mengusahakannya.
d. Sebagai Obat Tradisional
            Manfaat talas lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional. Seperti bubur akar rimpang talas dipercaya sebagai obat encok; cairan akar rimpang digunakan obat bisul; getah daunnya sering digunakan untuk menghentikan pendarahan karena luka dan obat bengkak. Pelepah dan tangkai daunnya yang telah dipanggang dapat digunakan untuk mengurangi rasa gatalgatal, bahkan pelepah daunnya juga dapat sebagai obat gigitan kalajengking. Bangsa Sawati di Afrika biasa menanam talas dibelakang gubuk untuk mencegah serangan rayap. Umbi talas dapat sebagai penguat gigi, hal ini dapat dibuktikan pada orang Melanesia ternyata giginya lebih kuat dan bagus (mencegah kerusakan gigi) daripada mereka yang makanan pokoknya sagu dan bijibijian. Karena makanan umbi talas menyebabkan kebasaan lebih tinggi. Sedangkan keasaman adalah salah satu biang keladi rusaknya lapisan gigi. Jadi dengan tingginya kebasaan kemungkinan rusaknya lapisan pelindung gigi menjadi lebih kecil sehingga gigi menjadi tetap kuat, sehat dan bagus.
e. Sebagai Makanan Ternak
            Talas ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai makanan babi, terutama bagian daun, tangkai dan pelepah. Bagian tersebut dipangkas secara kontinyu, dapat digunakansebagai makanan tambahan untuk babi.
f. Tepung Talas
            Dewasa ini tepung talas sudah cukup banyak dijumpai di pasaran. Hal ini menunjukkan makin berkembangnya aneka ragam makanan di masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa yang menempatkan talas sebagai salah satu bahan dasar pembuatan makanan.
g. Enyek-enyek Talas
            Enyek-enyek merupakan makanan ringan berbentuk seperti kerupuk dan popular di kalangan masyarakat Sunda. Namun demikian jenis makanan ini kemungkinan besar juga dapat dijumpai di seantero tanah air dengan nama yang berbeda.
h. Dodol Talas
            Hampir semua kalangan masyarakat di Indonesia mengenal jenis makanan ini. Dodol berbahan dasar talas ini juga mempunyai citarasa yang tidak berbeda dengan dodol pada umumnya yaitu manis dan agak lengket.
i. Cheese Stick Talas
            Cheese stick merupakan jenis makanan yang berasal dari luar Indonesia yang menempatkan keju sebagai pembentuk cita rasa.
(Apriyantono dkk., 1989).
PERMASALAHAN
            Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan karbohidrat di masa mendatang terdapat berbagai macam kendala seperti laju pertumbuhan jumlah penduduk yang masih cukup besar, terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian khususnya lahan sawah di Pulau Jawa dan di beberapa propinsi di luar Pulau Jawa, dengan iklim yang kurang menguntungkan di bidang pertanian maupun serangan hama dan penyakit yang eksplosif, tingkat konsumsi pangan karbohidrat (beras) per kapita per tahun yang masih meningkat dan lain-lain. Kesemuanya itu akan mengakibatkan semakin sulitnya penyediaan pangan, lebih-lebih bila masih bertumpu kepada beras semata (single commodity).





BAB III
PENUTUP
3.1 Analisis Permasalahan
            Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan nasional bisa terpenuhi, maka upaya yang dilakukan adalah meningkatkan produktivitas budidaya pangan dengan pemanfaatan teknologi dan upaya diversifikasi pangan. Upaya divesifikasi pangan menjadi penting, karena ketersediaan pangan nasional semakin berkurang. Berbagai kendala yang membatasi dan mendorong, untuk memenuhi pangan karbohidrat dimasa mendatang, ketersediaan lahan dan pertumbuhan penduduk. Sementara jika kita hanya menggantungkan ketersediaan karbohidrat dari serealia saja tidak akan mencukupi. Untuk itu penting kembali pada ketersediaan sumber karbohidrat yang bukan berasal dari serealia yaitu umbi-umbian.
            Didalam program diversifikasi pangan karena merupakan salah satu tanaman sumber penghasil karbohidrat non beras dari golongan umbi-umbian selain ubikayu dan ubijalar yang memiliki peranan cukup penting untuk penganekaragaman pangan. Kita mengetahui bahwa kebutuhan karbohidrat dari tahun ke tahun senantiasa mengalami peningkatan sebagai akibat meningkatnya laju pertumbuhan jumlah penduduk. Penyediaan karbohidrat yang hanya bersumber dari beras saja tidak dapat mencukupi kebutuhan sehingga untuk mewujudkan ketahanan pangan perlu didukung melalui usaha peningkatan produksi umbi-umbian; dan salah satu diantaranya talas. Umbi talas sangat bermanfaat sebagai bahan makanan tambahan maupun sebagai penyangga bahan pangan bagi daerah-daerah pada saat terjadinya kelangkaan pangan (musim paceklik) misalnya yang diakibatkan oleh terjadinya kemarau panjang dan sebagainya.
            Kebutuhan karbohidrat dari tahun ke tahun terus meningkat dimana, penyediaan karbohidrat dari serealia saja tidak mencukupi, sehingga peranan tanaman penghasil karbohidrat dari umbi-umbian khususnya talas semakin penting. Tanaman talas merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki peranan cukup strategis tidak hanya sebagai sumber bahan pangan, dan bahan baku industri tetapi juga untuk pakan ternak. Oleh karena itu tanaman talas menjadi sangat penting artinya di dalam kaitannya terhadap upaya penyediaan bahan pangan karbohidrat non beras, diversifikasi/penganekaragaman komsumsi pangan lokal/budaya lokal, substitusi gandum/terigu, pengembangan industri pengolahan hasil dan agroindustri serta komoditi strategis sebagai pemasok devisa melalui ekspor.  
            Di beberapa daerah dan propinsi, tanaman talas sudah membudaya digunakan sebagai makanan pokok. Ada daerah yang tinggal menggalakkan kembali budaya mengkonsumsi makanan dari talas, karena telah ditinggalkan sebelumnya sebagai makanan pokok. Tanaman talas merupakan tanaman penghasil karbohidrat dan memiliki peran yang sangat strategis, sebagai sumber pangan dan bahan industri, tapi juga untuk pakan ternak. Tanaman talas memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena hampir sebagian besar bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi manusia. Tanaman talas yang merupakan penghasil karbohidrat berpotensi sebagai suplemen/substitusi beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri dan lain sebagainya.
            Talas mempunyai manfaat yang besar untuk bahan makanan utama dan substitusi karbohidrat di beberapa negara termasuk di Indonesia. Selain itu sebagai bahan baku industri dibuat tepung yang selanjutnya diproses menjadi makanan bayi (di USA) kue-kue (di Philippina dan Columbia) serta roti (di Brazilia) sementara di Indonesia dibuat menjadi makanan enyek-enyek, dodol talas, chese stick talas dan juga untuk pakan ternak (termasuk daun dan batangnya). Talas mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan karena berbagai manfaat dan dapat dibudidayakan dengan mudah sehingga potensi talas ini cukup besar (Herawati, 1997).
            Selain itu, hama dan penyakit juga merupakan salah satu kendala yang mempengarui produktivitas tanaman talas. Berikut ini hama dan penyakit yang mempengarui tanaman talas serta pengendaliannya.
            a) Serangga aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae)
Gejala : daun menjadi agak keriting. Aphis mengeluarkan cairan madu, yang dapat menarik semut. Serangga ini tersebar di seluruh dunia kecuali di daerah dingin seperti di Siberia dan Kanada. Selain talas hama ini juga menyerang melon, timun, labu-labuan serta kapas.
Pengendalian : dengan insektisida pada tanaman talas dinilai kurang ekonomis, kecuali apabila tingkat serangan sangat tinggi pada tanaman muda. Insektisida yang digunakan adalah carbaryl, diazinon dimetoat dan malation cukup efektif untuk mengendalikan hama tersebut.
b) Ulat heppotion calerino (Lepidoptera: Sphingidae)
Gejala : ulat berukuran besar dan sangat rakus yang dapat memakan seluruh helai daun, bahkan populasi tinggi dapat makan pelepah daun juga, sehingga tanaman menjadi gundul. Selain talas ulat juga merusak tanaman kacang hijau, ubi jalar dan gulam. Serangga ini tersebar di negara-negara tropika dan sub tropika, Australia dan Pasifik.
Pengendalian : mengambil dan memusnahkan ulat tersebut. Selain itu, karena kepompong berada di dalam tanah, maka pembajakan lahan setelah panen dapat memusnahkan hama tersebut. Usaha pengendalian dengan insektisida telah dilakukan di Papua Nugini yaitu dengan Carbaryl jika kerusakan mencapai 50 %.
c) Serangga agrius convolvuli (kupu-kupu: Sphingidae)
Gejala : Ulat yang berukuran populasi yang tinggi, ulat juga makan tangkai daun sehingga tanaman menjadi gundul.
Pengendalian : kepompong terbentuk di dalam tanah, maka pembajakan tanah setelah panen dapat memusnahakan hama tersebut. Selain itu pengambilan ulat dan memusnahkannya merupakan cara pengendalian yang efektif untuk areal kecil. Usaha pengendalian dengan insektisida yang efektif hendaknya dilakukan pada saat ulat masih kecil dengan carbaryl 0,2 %
d) Serangga tarophagus proserpina (Hemiptera: Delphacidae)
Gejala : serangga dewasa dan nimfa mengusap cairan pelepah daun, sehingga warnanya berubah menjadi coklat. Serangga ini tersebar di kepulauan Pasifik, Hawai, Indonesia, Philipina, Kepulauan Ryuku dan Quensland.
Pengendalian : diintroduksikan sejenis pemangsa yaitu Cyrtorthinus pulus atau dengan serangga yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama tersebut yaitu carbaryl, malation, dan tri-chlorform.
e) Serangga bemisia tabaci (Hemiptera: Aleurodidae)
Gejala : pada serangan yang berat daun menjadi kering, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Selain talas, B. tabaci juga menyerang tanaman kedelai, ubi kayu, terungterungan dan kacang-kacangan lain.
Pengendalian : menggunakan cabaryl, malation, dan tri-chlorform.
f) Ulat spodoptera litura (kupu-kupu: Noctuidae)
Gejala : daun yang terserang oleh kelompok ulat yang masih kecil akan kehilangan lapisan epidermisnya sehingga menjadi transparan, dan akhirnya kering. Ulat Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang lebih besar akan tersebar dan masing-masing makan daun. Defoliasi yang di sebabkan ulat yang besar mirip dengan kerusakan yang disebabkan oleh Agrius convolvuli. Selain talas ulat juga menyerang tanaman jarak, tembakau, tomat, jagung, ubi jalar, kubis, cabe dan kacang-kacangan. Diantara inang tersebut, daun talas yang paling disukai, oleh karena itu dapat dimanfaatkan sebagai media pembiakan massal ulat tersebut untuk tujuan penelitan.
Pengendalian : dengan insektisida dilakukan apabila kerusakan telah mencapai 50 % dengan insektisida carbaryl dan dichorvos. Selain itu monokrotofos, kuinalfos dan endosulfan juga efektif untuk mengendalikan S. litura. Pengendalian lebih efektif jika dilakukan pada saat ulat masih kecil.
g) Serangga tetranychus cinnabarinus (Acarina: Tetranichidae)
Gejala: helai daun yang terserang nampak bintik-bintik putih atau kuning, karena serangga tersebut mengisap cairan daun. Apabila populasi sangat tinggi daun kelihatan memutih, kemudian layu dan mati. Apabila diamati nampak banyak sekali tunggau yang berwarna merah terletak di permukaan bawah daun. Tunggau disebarkan oleh manusia dan angin.
Pengendalian: pestisida azodrin, caerol, galecron, plictron, omite dan trition. Galecron dan plictron mempunyai residu yang panjang dan juga sebagai ovisida. Fungisida dapat juga untuk mengendalikan tungau yaitu Du Ter dan benlate.
h) Hepialiscus sordida (kupu-kupu: Hepialidae)
Gejala: daun yang terserang menjadi berlubang dengan garis tengah 5-10 cm, dan di isi oleh kotorannya. Pada serangan berat seluruh umbi terserang sehingga tinggal pangkal batangnya saja, sehingga tanaman mudah di cabut. Tanaman
yang terserang pertumbuhannya agak kurang tegar dibanding dengan tanaman sehat. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini cukup besar pada lahan kering. Serangan meningkat apabila petani menggunakan pupuk kandang.
i) Penyakit hawar daun(Phytophtora colocasiae)
Gejala: terdapat bercak kecil berwarna kehitaman, kemudian membesar menjadi hawar. Bagian daun yang terserang mengering, pada serangan berat seluruh daun mengering.
Pengendalian: menanam varietas tahan. Penyaringan klon-klon merupakan salah satu tahapan dalam pembentukan varietas.
(Rosmiatin, 1995).
3.2 SARAN   
            Tulisan ini dimaksudkan untuk kembali kita melihat manfaat talas bagi manusia, serta kita kembali pada budaya asli kita memberdayakan kekayaan alam kita sebagai kekuatan masa depan bangsa, tidak bergantung pada karbohidrat beras yang semakin sulit di produksi, sementara anugrah Tuhan berupa talas masih banyak yang belum dimanfaatkan (terbuang saja).


DAFTAR PUSTAKA
Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari N.L, Sedarnawati, Budiyanto S. 1989. Analisis Pangan. IPB Press. Bogor.
Fatah, Z. 1995. Skripsi. Mempelajari Pengaruh Kadar Amilosa Pada Pembuatan Ekstrudat Talas (Colocasia esculenta (L.) Schoot). Fateta IPB. Bogor.
Herawati, L. 1997. Skripsi. Analisa Rugi Laba Dan Marjin Tataniaga Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) (Studi kasus di Desa Sukaharja Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor). Jurusan Ilmu - Ilmu Sosial Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Lembaga Biologi Nasional LIPI. 1977. Ubi - Ubian. Balai Pustaka. Bogor.
PROSEA. 1994. Menyiasati Lahan Dan Iklim Dalam Pengusahaan Pertumbuhan Jenis - Jenis Tanaman Terpilih. PROSEA. Bogor.
Rahmanto, F. 1994. Skripsi. Teknologi Pembuatan Keripik Simulasi Dari Talas Bogor (Colocasia esculenta (L) Schoot). Fateta IPB. Bogor.
Rosmiatin, E. 1995. Skripsi. Prospek Pengembangan Talas Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) di Kabupaten Bogor Serta Proses Pertumbuhannya Pada Media Casting. Jurusan Biologi FMIFA IPB. Bogor.
Sitompul S.M dan Guritno B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wirawati T, B. S. Purwoko, D. Sopandie, I. Hanarida. 2002. Studi Fisiologi Adaptasi Talas terhadap Kondisi Naungan. Seminar Program Pasca Sarjana. Program Pascasarjana, IPB. Bogor.


0 komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

About