Rabu, 26 Juni 2013

KOMODITAS UBI JALAR

Posted by Unknown On 18.05 | 1 comment
Oleh   : Alexander Manurung
NIM  : 111201051


Pembangunan pertanian ke depan harus berwawasan agribisnis, sehingga pandangan bahwa pertanian hanya sebagai kegiatan budidaya akan terhapus. Pembangunan pertanian harus dipandang bukan sebagai pembangunan parsial dalam pengembangan komoditas, tetapi dalam implikasinya sangat terkait dengan pembangunan wilayah, khususnya pedesaan. Pengembangan agribisnis di masa datang menghadapi berbagai tantangan yang semakin berat dan kompleks.
Kemajuan agribisnis sangat tergantung dari kekuatan dan kemauan seluruh masyarakat untuk mengembangkan komoditas unggulan dalam rangka meningkatkan pendapatan para petani. Peran masyarakat agribisnis Indonesia dalam persaingan pasar dunia masih sangat kurang. Oleh karena itu, upaya dan kemauan masyarakat pertanian dalam pengembangan agribisnis sangat diperlukan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengembangan agribisnis akan sulit berhasil bila hanya berupa pengembangan budidaya suatu komoditas, tetapi tidak disertai dengan pengembangan dan penyiapan sistem pemasarannya. Pengembangan agribisnis akan efektif dan efisien bila disertai dengan pengembangan subsistem-subsistem lainnya, seperti pengolahan hasil dan pemasaran.
Ubi jalar merupakan salah satu penghasil karbohidrat yang potensial dan dapat digunakan sebagai sumber pangan alternatif, pakan dan bahan industri. Kandungan gizi ubi jalar adalah karbohidrat (pati, gula, selulosa, hemiselulosa dan pektin), protein, lemak, beta karoten dan mineral. Tanaman tersebut memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Nilai tambah dari ubi jalar dapat diperoleh dengancara pengolahan ubi jalar segar menjadi tepung, jam, gula permen, obat-obatan, cuka, manisan kering, kecap, french fries, lem, kain sintetis, dan pakan ternak.
Di antara bahan pangan sumber karbohidrat, ubi jalar memiliki keunggulan dan keuntungan yang sangat tinggi bagi masyarakat Indonesia, berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
  1. Ubi jalar mudah diproduksi pada berbagai lahan dengan produkti-vitas antara 20-40 t/ha umbi segar.
  2. Kandungan kalori per 100 g cukup tinggi, yaitu 123 kal dan dapat memberikan rasa kenyang dalam jumlah yang relatif sedikit
  3. Cara penyajian hidangan ubi jalar mudah, praktis dan sangat beragam, serta serasi (compatible) dengan makanan lain yang dihidangkan.
  4. Harga per unit-hidang murah dan bahan mudah diperoleh di pasar lokal.
  5. Dapat berfungsi dengan baik sebagai substitusi dan suplementasi makanan sumber karbohidrat tradisional nasi beras.
  6. Bukan jenis makanan baru dan telah dikenal secara turun temurun oleh masyarakat Indonesia.
  7. Rasa dan teksturnya sangat beragam, sehingga dapat dipilih yang paling sesuai dengan selera konsumen.
  8. Mengandung vitamin dan mineral yang cukup tinggi sehingga layak dinilai sebagai golongan bahan pangan sehat.
Ubi jalar merupakan salah satu komoditi bahan makanan pokok. Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan orang sepanjang tahun Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai bentuk atau macam produk olahan. Beberapa peluang penganekaragaman jenis penggunaan ubi jalar dapat dilihat  berikut ini:
  1. Daun                : sayuran, pakan ternak
  2. Batan               : bahan tanam
  3. Kulit ubi          : pakan ternak
  4. Ubi segar         : bahan makanan
  5. Tepung            : makanan
  6. Pati                  : fermentasi, pakan ternak, asam sitrat

Ubi jalar merupakan komoditas sumber karbohidrat utama, setelah padi, jagung, dan ubi kayu, dan mempunyai peranan penting dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industri maupun pakan ter-nak. ubi jalar dapat dimanfaatkan sebagai pengganti makanan pokok karena merupakan sumber kalori yang efisien. Selain itu, ubi jalar juga mengandung vitamin A dalam jumlah yang cukup, asam askorbat, tianin, riboflavin, niasin, fosfor, besi, dan kalsium. Di samping sumbangan vitamin dan mineral, kadar karotin pada ubi jalar sebagai bahan utama pembentukan vitamin A setaraf dengan karotin pada wortel (Daucus carota). Kandungan Vitamin A yang tinggi dicirikan oleh umbi yang berwarna kuning kemerah-merahan. Kadar vitamin C yang terdapat di dalam umbinya memberikan peran yang tidak sedikit bagi penyediaan dan kecukupan gizi dan dapat dijangkau oleh masyarakat di pedesaan.
Komoditas ubi jalar (Ipomoea batatas) sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, disamping itu mengandung vitamin A, C dan mineral. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna kuning, banyak mengandung vitamin A, sedangkan beberapa varietas ubijalar mengandung vitamin A yang sebanding dengan wortel.
Di Indonesia, perusahaan yang berbasis agroindustri ubi jalar masih sangat sedikit. Untuk perusahaan yang berorientasi ekspor telah mengalami peningkatan, diantaranya perusahaan yang mengolah ubi jalar menjadi produk setengah jadi seperti produk pasta dan produk ubi jalar beku. Selama ini masyarakat menganggap ubi jalar merupakan makanan pengganti atau tambahan dan hanya biasa dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah dan diolah secara sederhana. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, ubi jalar sudah dimanfaatkan untuk produk-produk olahan modern seperti french fries ubi jalar sampai bahan baku industri besar untuk pembuatan gula cair (fruktosa) dan alkohol.
Negara-negara tujuan ekspor ubi jalar Indonesia antara lain Singapura, Belanda, Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia. Pada tahun 1981-1990 Indonesia mengekspor ubi jalar sebanyak 426,197 ton atau senilai US$ 144.862, tahun 1991 sebanyak 904.024 ton atau senilai US$ 191.375, dan tahun 1993 sebanyak 7.726.712 ton atau senilai US$ 1.122.307 (Suprapti, 2003). Perkembangan ekspor ubi jalar Indonesia dari tahun 1994 – 2000 mengalami fluktuasi, mulai dari 4.143 ton pada tahun 1994 menjadi 7.429 ton pada tahun 2000 seperti tercantum pada Tabel 2. Volume ekspor tertinggi dicapai pada tahun 1997, yaitu 10.082 ton, sedangkan volume ekspor ubi jalar yang terendah adalah pada tahun 1996 yaitu 2.813 ton. Impor Amerika Serikat untuk produk ubi jalar beku cukup tinggi. Pada empat tahun terakhir diketahui bahwa impornya pada tahun 1999 adalah 15,95, tahun 2000 sebanyak 142,95 ton,tahun 2001 sebanyak 61,9 ton, dan tahun 2002 sebanyak 74,05 ton. Hingga bulan Pebruari 1999, diperlukan 6.000 ton ubi jalar goreng beku untuk ekspor. Jumlah tersebut baru terpenuhi dua persen, sehingga untukmemenuhi kebutuhan tersebut diperlukan 25.000 ton per tahun ubi jalar segarsebagai bahan bakunya. Menurut Nur (2000), saat ini pasar ekspor menunjukkan tren positif, dan pasar ubi jalar dalam negeri juga mulai meningkat.
Peningkatan produktivitas tanaman ubi jalar dapat dilakukan dengan cara memperbaiki sistem budidaya dan varietasnya. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara minimum dengan pembuatan guludan langsung dan pembumbunan yang dapat meningkatkan hasil panen ubi jalar. Nilai tambah yang lebih tinggi terhadap komoditas tersebut, serta pemanfaatan peluang pasar ekspor ubi jalar beku, maka perlu diupayakan pengembangan industri pengolahan ubi jalar, yang salah satunya adalah pabrik frozen french fries ubi jalar. Dalam upaya tersebut diperlukan analisis kelayakan proyek pembangunan pabrik frozen french fries ubi jalar dari aspek pemasaran, aspek SDM, aspek teknis dan teknologis, dan aspek finansial.
Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang berpotensi sebagai pengganti beras dalam program diversifikasi pangan karena efisien dalam menghasilkan energi, vitamin, dan mineral, berdasarkan produktivitas per hektar per hari dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya. Dari segi nutrisi, ubi jalar merupakan sumber energi yang baik, mengandung sedikit protein, vitamin, dan mineral berkualitas tinggi. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar memiliki peluang sebagai substitusi bahan pangan utama, sehingga bila diterapkan mempunyai peran penting dalam upaya penganekaragaman pangan dan dapat mengurangi konsumsi beras.
Pada saat krisis pangan akibat kegagalan panen maupun krisis ekonomi, beras menjadi barang langka dan mahal karena harganya melonjak tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat miskin. Sementara itu, kebutuhan pangan tidak bisa ditunda, maka masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan memerlukan alternatif pangan nonberas. Ubi jalar sebagai makanan tambahan maupun makanan selingan, selain cocok dengan selera masyarakat, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga beras. Meskipun konsumsi beras tidak semuanya dapat disubstitusi oleh ubi jalar, namun dalam saat krisis pangan pemanfaatan ubi jalar sebagai alternatif sumber karbohidrat untuk mengatasi kelangkaan pangan sangat kompetitif dibandingkan dengan bahan pangan lainnya.

1 komentar:

  1. Adakah konsumen yang siap menampung dalam jumlah banyak untuk ubi jalar ungu

    BalasHapus

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

About