Kamis, 27 Juni 2013

ANALISIS AGRIBISNIS TANAMAN AKASIA

Posted by Unknown On 10.18 | 2 comments
Oleh   : Puput Sarah
NIM  : 111201078


PENDAHULUAN
Acacia mangium Willd., yang juga dikenal dengan nama mangium, merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh yang paling umum digunakan dalam program pembangunan hutan tanaman di Asia dan Pasifik. Keunggulan dari jenis ini adalah pertumbuhan pohonnya yang cepat, kualitas kayunya yang baik, dan kemampuan toleransinya terhadap berbagai jenis tanah dan lingkungan (National Research Council 1983).
Tekanan terhadap ekosistem hutan alam di Indonesia yang tidak dapat dihindari belakangan ini mengakibatkan penggunaan jenisjenis cepat tumbuh, termasuk mangium, sebagai pengganti bahan baku untuk menopang pasokan produksi kayu komersial. Berdasarkan hasil uji coba dari 46 jenis tanaman yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan di Subanjeriji (Sumatera Selatan), mangium dipilih sebagai jenis tanaman yang paling cocok untuk tempat tumbuh yang marjinal, seperti padang rumput alang-alang (Arisman 2002, 2003).
Luas areal hutan tanaman mangium di Indonesia dilaporkan mencapai 67% dari total luas areal hutan tanaman mangium di dunia (FAO 2002). Rimbawanto (2002) dan Barry dkk. (2004) melaporkan bahwa sekitar 80% dari areal hutan tanaman di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan negara dan swasta terdiri dari mangium. Sekitar 1,3 juta ha hutan tanaman mangium telah dibangun di Indonesia untuk tujuan produksi kayu pulp (Departemen Kehutanan 2003).
Mangium juga diusahakan oleh rakyat (petani) dalam skala kecil. Menurut Departemen Kehutanan dan Badan Statistika Nasional (2004), Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah tanaman mangium rakyat tertinggi, mencakup lebih dari 40% total jumlah tanaman mangium yang diusahakan oleh rakyat di Indonesia.
Nama botani              : Acacia mangium Willd.
Marga                         : Leguminoseae
Submarga                  : Mimosoideae
Sinonim                      : Rancosperma mangium (Willd.) Pedley
Nama lokal/umum     : Nama lokal di Indonesia: mangga hutan, tongke hutan (Seram), nak (Maluku), laj (Aru), dan jerri (Irian Jaya) (Turnbull 1986). Nama lokal di negara lain: black wattle, brown salwood, hickory wattle, mangium, sabah salwood (Australia, Inggris); mangium, kayu SAFODA (Malaysia); arr (Papua Nugini); maber (Filipina); zamorano (Spanyol); dan kra thin tepa, krathinthepha (Thailand) (Hall dkk. 1980, Turnbull 1986).
Pohon mangium pada umumnya besar dan bisa mencapai ketinggian 30 m, dengan batang bebas cabang lurus yang bisa mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon. Pohon mangium jarang mencapai diameter setinggi dada lebih dari 60 cm, akan tetapi di hutan alam Queensland dan Papua Nugini, pernah dijumpai pohon dengan diameter hingga 90 cm (National Research Council 1983).
Di tempat tumbuh yang buruk, pohon mangium bisa menyerupai semak besar atau pohon kecil dengan tinggi rata-rata antara 7 sampai 10 m (Turnbull 1986). Batang pohonnya beralur memanjang. Pohon yang masih muda umumnya berkulit mulus dan berwarna kehijauan; celah-celah pada kulit mulai terlihat pada umur 2–3 tahun. Pohon yang tua biasanya berkulit kasar, keras, bercelah dekat pangkal, dan berwarna coklat sampai coklat tua (Hall dkk. 1980).
Anakan mangium yang baru berkecambah memiliki daun majemuk yang terdiri dari banyak anak daun mirip dengan Albizia, Leucaena, dan jenis lain dari sub-marga Mimosoideae. Meskipun demikian, setelah beberapa minggu, daun majemuk ini tidak lagi terbentuk; melainkan tangkai daun dan sumbu utama setiap daun majemuk tumbuh melebar dan berubah menjadi phyllode. Phyllode ini berbentuk sederhana dengan tulang daun paralel, dan bisa mencapai panjang 25 cm dan lebar 10 cm. Bunga mangium tersusun dari banyak bunga kecil berwarna putih atau krem seperti paku. Pada saat mekar, bunga menyerupai sikat botol (Turnbull 1986) dengan aroma yang agak harum. Setelah pembuahan, bunga berkembang menjadi polong-polong hijau yang kemudian berubah menjadi buah masak berwarna coklat gelap (National Research Council 1983). Bijinya berwarna hitam mengilap dengan bentuk bervariasi dari longitudinal, elips, dan oval sampai lonjong berukuran 3–5 mm × 2–3 mm. Biji melekat pada polong dengan tangkai yang berwarna oranye-merah.


PEMBAHASAN
Jenis mangium tumbuh secara alami di hutan tropis lembap di Australia bagian timur laut, Papua Nugini dan Kepulauan Maluku kawasan timur Indonesia (National Research Council 1983). Setelah berhasil diintroduksikan ke Sabah, Malaysia, pada pertengahan tahun 1960-an, mangium banyak diintroduksikan ke berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Bangladesh, Cina, India, Filipina, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam. Di Indonesia, jenis ini pertama kali diintroduksikan ke daerah lain selain Kepulauan Maluku pada akhir tahun 1970-an sebagai jenis pohon untuk program reboisasi (Pinyopusarerk dkk. 1993).

Tempat Tumbuh
Mangium dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan kondisi lingkungan. Mangium dapat tumbuh cepat di lokasi dengan level nutrisi tanah yang rendah, bahkan pada tanah-tanah asam dan terdegradasi (National Research Council 1983). Jenis ini tumbuh baik pada tanah laterit, yaitu tanah dengan kandungan oksida besi dan aluminium yang tinggi (Otsamo 2002). Meskipun demikian, jenis ini tidak toleran terhadap naungan dan lingkungan salin (asin). Di bawah naungan, mangium akan tumbuh kerdil dan kurus (National Research Council 1983).
Jenis ini merupakan jenis pionir yang dapat meregenerasi secara alami di lokasi yang sudah terganggu. Gunn dan Midgley (1991) melaporkan bahwa mangium tumbuh secara melimpah di hutanhutan pasca terjadinya gangguan, di sepanjang jalan dan bekas-bekas peladangan berpindah di Indonesia dan Papua Nugini. Jenis mangium biasanya ditemukan di daerah dataran rendah beriklim tropis yang dicirikan oleh periode kering yang pendek selama 4 bulan (Eldoma dan Awang 1999). Jenis ini dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut sampai ketinggian 480 m. Meskipun demikian, mangium dapat tumbuh
pada ketinggian hingga 800 m (Hall dkk. 1980, Atipanumpai 1989).
Jumlah curah hujan tahunan di areal tumbuhnya mangium bervariasi dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm dengan rata-rata curah hujan tahunan antara 1.446 dan 2.970 mm. Di habitat alaminya, suhu minimum rata-rata berkisar 12–16 oC dan suhu maksimum rata-rata sekitar 31–34 oC (National Research Council 1983).
Jenis ini tidak tumbuh terus menerus sepanjang tahun; pertumbuhan tampak lambat atau berhenti sebagai respons terhadap kombinasi curah hujan yang rendah dan suhu yang dingin (Turnbull 1986). Mangium bisa mengalami kematian jika terkena kekeringan yang parah atau musim dingin yang berkepanjangan. Pan dan Yang (1987) melaporkan angka kematian yang tinggi pada mangium berumur 5 tahun setelah mengalami periode waktu dengan suhu rendah (sekitar 5–6 oC) disertai dengan hujan dingin yang lama.

Karakteristik Kayu
Kayu gubal mangium tipis dan berwarna terang. Kayu terasnya berwarna agak coklat, keras, kuat, dan tahan lama pada ruangan yang berventilasi baik, meskipun tidak tahan apabila kontak dengan tanah (National Research Council 1983). Serat kayunya lurus hingga bertautan dangkal; teksturnya agak halus sampai halus dan seragam. Kerapatan kayunya bervariasi dari 450 sampai 690 kg/m3 dengan kadar air 15%. Tingkat penyusutan cukup rendah sampai moderat sebesar 1,4–6,4% (Abdul-Kader dan Sahri 1993). Berat jenis kayu dari tegakan hutan tanaman umumnya berkisar antara 0,4 dan 0,45 sedangkan yang dari tegakan alam sekitar 0,6 (National Research Council 1983).

Kegunaan
Kayu mangium dapat digunakan untuk pulp, kertas, papan partikel, krat dan kepingan-kepingan kayu. Selain itu juga berpotensi untuk kayu gergajian, molding, mebel dan vinir. Karena memiliki nilaikalori sebesar 4.800–4.900 kkal/kg, kayunya dapat digunakan untuk kayu bakar dan arang. Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak. Cabang dan daun-daun kering yang berjatuhan dapat digunakan untuk bahan bakar. Penggunaan nonkayu meliputi bahan perekat dan produksi madu. Serbuk gergajinya dapat digunakan sebagai substrat berkualitas bagus untuk produksi jamur yang dapat dimakan (Lemmens dkk. 1995).
Pohon mangium juga dapat digunakan sebagai pohon penaung, ornamen, penyaring, pembatas dan penahan angin, serta dapat ditanam pada sistem wanatani dan pengendali erosi (National Research Council 1983). Jenis ini banyak dipilih oleh petani untuk tujuan peningkatan kesuburan tanah ladang atau padang rumput. Pohon mangium mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif, seperti
alang-alang (Imperata cylindrica); jenis ini juga mengatur nitrogen udara dan menghasilkan banyak serasah, yang dapat meningkatkan aktivitas biologis tanah dan merehabilitasi sifat-sifat fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk. 1995). Pohon mangium juga dapat digunakan sebagai penahan api karena pohon berdiameter 7 cm atau lebih biasanya tahan terhadap api (National Research Council 1983).

Pengumpulan Benih
Jenis mangium mulai berbunga dan menghasilkan biji sekitar 18–20 bulan setelah tanam (National Research Council 1983). Musim berbunga dan berbuah bervariasi tergantung lokasi geografis. Sebagai contoh, di Australia puncak musim bunga terjadi pada bulan Maret dan Mei dengan musim buah jatuh pada akhir September–Desember (Sedgley dkk. 1992). Di Indonesia, buah masak terjadi lebih awal yaitu sekitar bulan Juli, dan di Papua Nugini buah masak terjadi pada bulan September (Turnbull 1986).
Secara umum, buah akan masak 5–7 bulan setelah periode pembungaan.
Buah dapat dipanen pada saat terjadi perubahan warna menjadi coklat tua dan biji mulai terbuka. Pemanenan dilakukan dengan cara memangkas buah dari pohon dengan menggunakan galah pangkas. Idealnya, buah dipanen sebelum polong terbuka secara penuh (Bowen dan Eusebio 1981 dalam Adjers dan Srivastava 1993); polong dengan biji-biji menggantung biasanya tetap melekat di pohon selama beberapa minggu.

Persiapan Benih
Buah polong mangium harus diproses secepat mungkin setelah pengumpulan. Berbagai teknik dapat digunakan untuk memisahkan benih dari polongnya. Benih dapat diekstraksi secara manual setelah dikeringkan di tempat terbuka selama beberapa hari (24–48 jam) sampai warna polong berubah menjadi coklat/hitam dan terpisah. Suhu pengeringan harus tetap di bawah 43 oC untuk menghindari hilangnya viabilitas benih (FAO 1987).
Biji juga dapat dipisahkan dari polongnya setelah pengeringan dengan cara diputar selama 10–15 menit dalam pengaduk semen dengan balok kayu yang
berat. Metode lain adalah dengan meletakkan polong kering ke dalam karung dan kemudian memukulnya dengan mesin perontok. Biji kemudian diayak danditampi secara manual atau dengan mesin untuk mengeluarkan kotoran. Satu kilogram biji yang sudah bersih rata-rata mengandung 80.000–110.000 butir (National Research Council 1983).

Penyimpanan dan Viabilitas Benih
Penyimpanan benih mangium relatif mudah. Setelah benih dikeringkan hingga kadar air 6–8% dan disimpan dalam wadah yang kedap udara, benih akan tetap berkecambah hingga 75–80% selama beberapa hari (National Research Council 1983). Penyimpanan harus dilakukan dengan tepat untuk melindungi benih dari suhu tinggi, cahaya, dan oksigen yang berlebihan. FAO (1987) menganjurkan penyimpanan benih mangium dalam wadah tertutup yang kedap udara dan disimpan dalam lemari es dengan suhu 0–5 oC. Supriadi dan Valli (1988) menyarankan untuk menggunakan jeriken bersih atau botol-botol kecil yang dapat ditutup dengan rapat. Menurut Evans (1982), benih mangium memiliki ketahanan yang lama apabila tetap disimpan pada kondisi kering dan bebas dari serangga dan binatang pengerat yang merusak.
Sebelum penaburan, benih harus dimasukkan dalam air mendidih selama 30 detik, dan kemudian didinginkan dengan cara direndam dalam air dingin selama 2 jam. Perkecambahan mungkin terjadi setelah 1 hari dan terus berlangsung sampai 10–15 hari (Adjers dan Srivastava 1993).


Propagasi dan Penanaman
Penaburan
Benih dapat ditabur pada bedeng tabur dan ditransplantasikan setelah 6–10 hari. Meskipun demikian, daya perkecambahan dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 37%. Penaburan pada bak kecambah dan mentransplantasikannya setelah 6–10 hari ketika radicle (embrio) keluar bisa menghasilkan daya perkecambahan lebih dari 85% (Adjers dan Srivastava 1993). Cara lain adalah dengan penaburan secara langsung dalam kontainer dan diikuti dengan transplantasi untuk mempertahankan satu bibit per kontainer. Penaburan secara langsung umumnya lebih disukai oleh banyak petani pohon karena mengurangi biaya produksi bibit dan risiko deformasi akar (Adjers dan Srivastava 1993).
Metode ini memerlukan benih yang berkualitas baik dengan persentase perkecambahan yang tinggi. FAO (1987) merekomendasikan beberapa benih pada setiap kontainer: 3 biji per kontainer (daya perkecambahan 30–50%), 2 biji per kontainer (daya perkecambahan 51–80%), dan 1 biji per kontainer (daya perkecambahan lebih dari 81%). Penaburan secara langsung harus dilakukan di bawah jaring naungan karena mangium tidak memerlukan banyak cahaya. Di Indonesia, jaring dengan transmisi cahaya 50% telah digunakan secara ekstensif (Supriadi dan Valli 1988). Setelah ditabur benih harus ditutup. Bahan penutup seperti pasir kasar yang sudah dicuci, batu atau kerikil yang sudah dihancurkan biasanya digunakan untuk mencegah munculnya penyakit lodoh (rebah semai), mempercepat munculnya kotiledon dan memberi ruang yang cukup untuk pertukaran udara dan drainase air (FAO 1987).

Persiapan Sebelum Penanaman
Kelembaban yang cukup dan sumber pupuk yang sesuai sangat penting bagi pertumbuhan bibit di persemaian. Penyiraman yang berlebihan dapat menyebabkan bibit berair, sedangkan penyiraman yang kurang dapat menyebabkan bibit kerdil (FAO 1987). Waktu penyiraman tergantung pada suhu,
curah hujan, kelembaban udara, evapotranspirasi, kecepatan angin, ukuran pohon dan substrat. Pupuk NPK umumnya diberikan pada umur 10 hari setelah tanam dan diberikan dua kali seminggu di persemaian (Adjers dan Srivastava 1993).
Setelah pemberian pupuk, sedikit penyiraman diperlukan untuk mencuci daun dari residu pupuk. Bibit biasanya dipelihara di persemaian selama 12 minggu atau sampai mencapai ukuran tinggi 25–40 cm (Gambar 7). Srivastava (1993) merekomendasikan dua pemangkasan akar dan pengerasan bibit (adaptasi bibit dengan sinar matahari penuh) sebelum dilakukan penanaman di lapangan. Pada tanah dengan kandungan fosfor rendah, bibit mangium yang diberi pupuk fosfor sebesar 30 g per pohon menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan bibit yang tanpa pupuk (Lemmens dkk. 1995).
Penanaman
Bibit ditanam secara manual pada waktu musim hujan di lokasi penanaman yang sudah disiapkan dan telah diberi tanda pada jarak tanam yang direkomendasikan. Pada areal yang miring, bibit ditanam sesuai dengan garis kontur, dan di areal yang datar bibit ditanam sesuai dengan garis lurus. Setelah kontainer dilepas, setiap bibit ditempatkan secara hati-hati pada lubang tanam berukuran diameter 13 cm dan kedalaman 20 cm (Srivastava 1993).
Jarak tanam tergantung pada tujuan penanaman dan tingkat kesuburan tanah. Jarak tanam awal dapat bervariasi dari 2 × 2 m sampai dengan 4 × 4 m. Untuk produksi kayu bakar dan kayu serpih di mana bentuk batang tidak dipertimbangkan, bibit harus ditanam dengan jarak yang lebih lebar untuk menghasilkan batang dan percabangan yang lebih banyak sehingga menghasilkan volume pohon total yang lebih besar (Srivastava 1993), meskipun biaya panen akan meningkat. Penanaman dengan jarak tanam yang lebih rapat untuk produksi kayu gergajian dapat mengurangi terbentuknya cabang-cabang besar dan risiko infeksi jamur (Weinland dan Zuhaidi 1991 dalam Srivastava 1993). Di Indonesia, jarak tanam 3 × 3 m pada umumnya digunakan di hutan tanaman A. mangium baik yang berskala besar maupun berskala kecil.

Penyiangan
Penyiangan pada tanaman A. mangium perlu dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari belukar, tanaman pemanjat dan tanaman pengganggu lainnya; gulma yang tidak berbahaya dapat pula dibiarkan tumbuh di lapangan untuk menjaga persaingan cabang lateral. Penyiangan pertama perlu dilakukan dua bulan setelah penanaman, menurut Udarbe dan Hepburn (1987 dalam Srivastata 1993).
Frekuensi penyiangan berikutnya bisa berbeda menurut lokasi. Di daerah yang tumbuhan alangalangnya sangat lebat, penyiangan harus sering dilakukan, misalnya areal di sekitar larikan tanamanharus dibersihkan pada umur 1,5, 3 dan 5 bulan dan gulma yang tumbuh di antara larikan tanaman juga harus disiangi pada bulan ketiga (National Research Council 1983). Di Indonesia, penyiangan sekitar tanaman mangium biasanya dilakukan 3–4 kali pada tahun pertama dan kedua setelah tanam (Departemen Kehutanan dan Perkebunan 1999).
Pemupukan
Pada sebagian lokasi, pemupukan hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap tanaman mangium (National Research Council 1983). Meskipun demikian, 100 g pupuk fosfat umumnya diberikan pada setiap lubang tanam pada saat penanaman, terutama pada tanah-tanah yang sangat miskin hara. Simpson (1992) dalam Srivastava (1993) melaporkan bahwa aplikasi pupuk yang sesuai dalam jumlah yang memadai (misalnya 100 kg/ha N, 50 kg/ha P dan 50 kg/ha K) dapat meningkatkan pertumbuhan awal mangium. Jenis dan jumlah pupuk dapat bervariasi, tergantung pada tanah dan kondisi tempat tumbuh. Sebagai contoh, di Kalimantan Selatan kalium tampaknya menjadi faktor pembatas pertumbuhan, sementara di Malaysia fosfat merupakan unsur hara yang paling penting (Srivastava 1993).

Penyulaman
Penghitungan survival (jumlah tanaman yang hidup) biasanya dilakukan 1 bulan setelah penanaman. Penyulaman biasanya dilakukan pada tanaman yang mati. Penyulaman dilakukan pada waktu musim hujan 1–2 bulan setelah penanaman. Srivastata (1993) melaporkan bahwa persentase hidup mangium
setelah penanaman pada umumnya tinggi; di lokasi yang menguntungkan, persentase hidup bisa mencapai lebih dari 90%.

Penunggalan dan Pemangkasan
Mangium pada umumnya ditanam pada kondisi yang cukup terbuka dan di tempat tumbuh yang bagus cenderung untuk membentuk percabangan ganda. Selain itu, jenis ini memiliki kemampuan untuk meluruhkan diri yang kurang. Oleh karena itu, penunggalan dan pemangkasan penting dilakukan pada tahap awal pertumbuhan jika tujuan penanaman adalah untuk mempertahankan potensi pertumbuhan total dan produksi kayu yang berkualitas baik (Mead dan Speechly 1991).
Meskipun demikian, penunggalan dan pemangkasan biasanya hanya dilakukan pada hutan tanaman yang ditujukan untuk menghasilkan kayu vinir dan kayu gergajian yang berkualitas. Penunggalan biasanya dilakukan mulai umur 4–6 bulan setelah tanam sebelum kayu gubal terbentuk. Pemangkasan mulai dilakukan 1 tahun setelah tanam (Srivastava 1993).
Pemangkasan berikutnya bisa dilakukan pada tahun kedua sebelum mencapai ketinggian 2–3 m, pada tahun ketiga sebelum mencapai ketinggian 5 m dan pada tahun keempat sebelum mencapai ketinggian 7 m. Cabangcabang harus dipangkas sebelum mencapai diameter 2 cm untuk menghindari infeksi jamur, terutama busuk hati (Srivastava 1993). Pada sistem wanatani, cabang-cabang biasanya dipangkas secara teratur untuk mencegah persaingan dengan tanaman pertanian.

Penjarangan
Keputusan untuk melakukan penjarangan atau tidak pada tanaman  mangium harus didasarkan pada pertimbangan tujuan produksi. Jika tujuan utamanya adalah produksi kayu pulp, di mana tidak ada pembatasan ukuran produk, maka penjarangan tidak diperlukan. Penjarangan hanya diperlukan apabila tujuan penanaman adalah untuk menghasilkan kayu gergajian dan vinir. Krisnawati (2007) menunjukkan bahwa kebutuhan penjarangan bervariasi tergantung pada kerapatan tegakan dan kualitas tempat tumbuh.
Hasil penelitiannya menyarankan bahwa penjarangan pertama sebaiknya dilakukan pada umur 2–4 tahun, tergantung pada kualitas tempat tumbuh dan kerapatan tegakan. Pada kisaran umur ini, tegakan memiliki rata-rata tinggi sekitar 9 m. Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan Mead dan Speechly (1991) dan Mead dan Miller (1991) yang menyatakan bahwa penjarangan pertama tanaman mangium perlu dilakukan ketika tanaman mencapai ketinggian 9 m (umumnya ketika tanaman berumur 2 tahun pada jarak tanam 3 × 3 m). Jumlah penjarangan yang optimal dalam satu periode rotasi meningkat dengan meningkatnya kerapatan tegakan. Dalam kebanyakan kasus, penjarangan cukup dilakukan satu kali selama rotasi. Dalam kasus bila lebih dari satu kali penjarangan merupakan keputusan manajemen yang optimal, penjarangan kedua harus dilakukan 2 tahun setelah penjarangan pertama. Skenario optimal dengan satu kali penjarangan meliputi penjarangan dengan intensitas 30–60% dari jumlah batang, sedangkan pada penjarangan ganda, intensitaspenjarangan yang optimal adalah 50% dari jumlah batang. Intensitas penjarangan optimal umumnya lebih besar pada tegakan dengan kerapatan lebih tinggi. Untuk tegakan dengan kerapatan tegakan tinggi, intensitas penjarangan yang optimal adalah 60%, sedangkan untuk kerapatan tegakan sedang intensitas penjarangan yang optimal adalah sekitar 40–50% (Krisnawati 2007).

Pengendalian Hama dan Penyakit
Jenis mangium secara umum relatif bebas dari serangan hama dan penyakit yang serius (Mead dan Miller 1991). Survei yang dilakukan untuk mengevaluasi penyakit tanaman Acacia tropis menyimpulkan bahwa penyakit busuk hati, busuk akar dan karat phyllode (masing-masing infeksi pada kayu gubal, akar dan daun oleh jamur) merupakan ancaman utama (Old dkk. 2000).
Jamur busuk hati tidak akan mengakibatkan kematian tetapi kualitas kayu menurun; kayu menjadi keputih-putihan, poros atau berserat dan dikelilingi oleh bercak-bercak hitam. Jamur busuk hati parasit basidiomisetes yang masuk melalui luka-luka dan bekas potongan cabang (misalnya, akibat pemangkasan) dan tidak menyerang jaringan sehat. Penyakit busuk akar adalah kebusukan pada akar yang disebabkan oleh berbagai patogen basidiomisetes, menyerang jaringan akar sehat dan dapat mengakibatkan kematian pohon atau gejala penurunan pada tajuk. Penyakit ini menyebar melalui kontak akar yang sakit atau puing-puing kayu yang
terinfeksi dengan akar yang sehat. Penyakit karat phyllode disebabkan oleh jamur yang merusak jaringan pertumbuhan tanaman di persemaian dan tanaman muda. Wabah yang mengakibatkan keguguran daun prematur dilaporkan terjadi pada umur 15 bulan di Sumatera dan Kalimantan Selatan (Old dkk. 2000).
Beberapa kelompok serangga dilaporkan telah menyerang tanaman mangium. Serangga yang mungkin menyerang anakan mangium di persemaian meliputi serangga kecil (Hemiptera), belalang dan ulat kantong, yang menyebabkan berbagai tipe kerusakan (Nair dan Sumardi 2000). Rayap (Captotermes curvignathus), juga dilaporkan memakan akar bibit tanaman muda atau batang dekat tanah dan menembus ke jantung kayu dan telah membunuh 10–50% tanaman tahun pertama di hutan tanaman di Sumatera (Wylie dkk. 1998 dalam Nair dan Sumardi 2000). Penggerek Xystrocera festiva dilaporkan menyerang tanaman mangium pada sistem wanatani di Jawa Timur dan tanaman industri di Sumatera Selatan di mana hingga 11% tanaman telah terinfeksi (Matsumoto 1994). Serangan serangga semacam ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida pada tanaman yang terserang (Old dkk. 2000).

Laju Pertumbuhan
Informasi mengenai laju pertumbuhan mangium dari berbagai kondisi (lokasi, umur dan jarak tanam) yang diambil dari berbagai sumber pustaka disajikan pada. Secara umum, diameter rata-rata meningkat cukup cepat hingga 15 cm pada tegakan berumur kurang dari 3 tahun. Laju pertumbuhan kemudian melambat setelah tahun ke-lima, dan pada umur 8 tahun diameter mulai tetap pada kisaran 25 cm. Pertumbuhan tinggi juga menunjukkan kecenderungan yang sama seperti pertumbuhan diameter. Pada umur 2–3 tahun, tinggi meningkat sedang hingga 10–15 m dan kemudian meningkat tajam hingga 25 m pada umur sekitar 5 tahun, setelah itu tinggi mulai tetap

Hubungan antara Diameter dan Tinggi
Diameter dan tinggi merupakan ukuran inventarisasi yang penting untuk menduga volume pohon. Meskipun demikian, pengukuran tinggi pohon relatif lebih sulit dan mahal. Pengukuran tinggi biasanya hanya dilakukan pada beberapa pohon contoh saja dalam plot. Oleh karena itu, kuantifikasi hubungan antara diameter dan tinggi pohon sangat diperlukan untuk menduga tinggi pohon-pohon lain yang tidak diukur tingginya. Siregar dan Djaingsastro (1988) membuat analisis hubungan antara diameter setinggi dada (D) dan tinggi total (H) untuk tanaman mangium muda (<2 tahun) yang tumbuh di plot percobaan penanaman mangium di Lampung dan menyusun model sederhana berikut:
H (cm) = -8,4052 + 120,0915 D (mm) Model yang disusun ini mungkin kurang dapat diandalkan untuk menduga tinggi pohon mangium yang lebih tua, karena pertumbuhan tinggi awal (seperti yang digunakan untuk menyusun model ini) kemungkinan masih tidak menentu dan sangat tergantung pada faktor-faktor lain, selain kualitas tempat tumbuh, seperti kondisi stok awal, kualitas bibit dan teknik penanaman. Selain itu, penggunaan diameter sebagai peubah penduga tunggal untuk memprediksi tinggi pohon total mungkin membatasi penggunaan model tersebut hanya untuk tegakantegakan dimana data dikumpulkan. Hubungan diameter-tinggi mungkin bervariasi dari tegakan ke tegakan, dan bahkan dalam tegakan yang sama, karena hubungan diameter-tinggi pada tegakan yang sama mungkin tidak konstan dari waktu ke waktu, dan perkembangan tinggi mungkin lebih lambat pada tempat tumbuh yang berkualitas buruk daripada di tempat tumbuh yang berkualitas baik.
Model yang disusun memungkinkan keragaman tinggi di dalam kelas-kelas diameter tergantung pada umur tegakan dan kualitas tempat tumbuh, sehingga memberikan hasil prediksi tinggi pohon yang lebih realistis daripada model yang hanya memasukkan peubah diameter saja. Penyertaan peubah tegakan tambahan juga meningkatkan hasil prediksi yang signifikan daripada hanya menggunakan diameter. Model yang tersusun memiliki karakteristik berikut: (1) tinggi pohon akan meningkat dengan laju peningkatan menurun seiring dengan meningkatnya DBH, (2) pada DBH tertentu tinggi akan meningkat dengan laju peningkatan menurun seiring dengan meningkatnya umur pohon, dan (3) pada DBH dan umur tegakan tertentu, tinggi akan meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas tempat tumbuh

Pendugaan Volume Batang
Beberapa model penduga volume batang mangium dari berbagai lokasi di Indonesia disajikan pada. Model tersebut merupakan pendugaan dari diameter setinggi dada (D) atau kombinasi antara diameter dan tinggi pohon total (H), atau dari panjang batang diukur ke batas minimum diameter tertentu, seperti 4 cm (Soemarna dan Bustomi 1986, Wahjono dkk. 1995), dan 7 cm (Bustomi 1988, Wahjono dkk. 1995, Krisnawati dkk. 1997). Model tersebut digunakan untuk menyusun tabel volume batang, baik tabel volume dengan satu peubah DBH, atau tabel volume dengan dua peubah yang menduga volume untuk DBH tertentu pada berbagai ketinggian. Meskipun demikian, model-model tersebut disusun dengan menggunakan data dari tegakan muda (umumnya berumur 5 tahun) dan dengan batas diameter ujung yang tetap, sehingga kemungkinan tidak memadai untuk digunakan dalam menduga volume batang pohon-pohon yang lebih tua atau lebih muda dari umur pohon contoh, dan mungkin juga tidak fleksibel jika terjadi perubahan standar ukuran kayu komersial.

Masalah
Pemasaran : para tukang yang lebih memilih kayu yang dieksport karena harga dan kualitasnya yang lebih bagus

Solusi
            Menurunkan faktor produksi sehingga kayu lebih murah.

KESIMPULAN
Kesimpulan
1.     Luas areal hutan tanaman mangium di Indonesia dilaporkan mencapai 67% dari total luas areal hutan tanaman mangium di dunia
2.     Mangium juga diusahakan oleh rakyat (petani) dalam skala kecil
3.     80% dari areal hutan tanaman di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan negara dan swasta terdiri dari mangium
4.     Sekitar 1,3 juta ha hutan tanaman mangium telah dibangun di Indonesia untuk tujuan produksi kayu pulp
5.     Keunggulan dari jenis ini adalah pertumbuhan pohonnya yang cepat, kualitas kayunya yang baik, dan kemampuan toleransinya terhadap berbagai jenis tanah dan lingkungan




2 komentar:

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

About